Kamis, 02 Januari 2014

Ia

Ia datang, langsung duduk di meja kesukaan-nya. Ditemani coklat panas dan kue kering.
Selalu terlihat menunggu, dan menunggu. Entah kehadiran siapa yang ia tunggu.

Aku mengamati dari 3 meja disamping-nya. Sambil ditemani koran yang baru kubeli dari penjual koran di lampu merah.
Selalu terlihat mengamati, dan mengamati. Mengamati kehadiran-nya.

Ia biasanya menghabiskan sekitar 3 jam disana. Hanya duduk di meja-nya tanpa memesan apa-apa lagi.
Seperti sudah cukup puas dengan pesanan awal-nya. Jadi ia hanya bergelut dengan fikiran-nya.

Aku biasanya menghabiskan sekitar 4 jam disini. Seringkali aku terlihat memesan beberapa makanan atau minuman, tidak hanya duduk di meja.
Aku seperti tidak puas dengan pesanan awal-ku. Dan tidak hanya bergelut dengan fikiran-ku.

Tidak seperti biasanya hari ini ia datang tanpa membawa apa-apa, hanya dompet kecil di tangan kiri-nya.

Tapi aku tetap seperti biasanya, datang dengan barang bawaan-ku.

Tapi iya tetap memesan coklat panas dan kue kering. Namun tanpa apa-apa, ia hanya memandangi jendela besar. Melihat mereka yang sibuk berjalan.

Dan aku kali ini aku mengangganti makanan kesukaan-ku dengan menu baru. Aku sibuk membaca berita dari koran yang baru kubeli pagi tadi.

Kali ini entah karena kedatangan dewi fortuna, ia menatap-ku.

Dan aku balas menatap-nya, lama.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali, seperti menahan air yang akan turun di pipi-mu.

Tapi aku tetap menatap-mu, lama, tanpa berkedip.

Akhirnya sampai di titik dimana ia membuka mulut-nya, memanggil-ku perlahan namun cukup jelas untuk kudengar.

"Tolong jangan pergi lagi"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar