Sabtu, 28 Desember 2013

teruntuk kamu yang berharga

teruntuk kamu yang berharga disana

kamu datang kembali, dengan gaya khas-mu yang ku kenali
mengapa kamu datang kembali? tanya-ku berulang kali
kamu datang kembali membuat-ku berseri-seri
tapi aku tahu kau telah pergi berkali-kali

kedatanganmu mewarnai hari
yang selama ini semu sekali
bunga-bunga ku mekar kembali
pelangi-ku berwarna lagi

tapi setiap kepulanganmu 
aku selalu teringat kepergianmu
mungkin aku yang terlalu lugu
dalam ketakutan-ketakutanku
atau memang kau tak selayaknya ditunggu
dan diterima dalam kepulanganmu

berulang kali aku berjanji
aku tak akan kembali padamu
aku terlalu lelah bergelut dengan gelisah
berulang kali pula aku berubah 
menjadi dandelion yang tertiup angin

saat kau memanggil namaku

aku ingin pulang katamu
ini usaha terakhirku katamu
fikirkan baik-baik katamu

aku ingin kau kembali
dan tak pergi lagi
namun apa yang kunjung kau beri
kepergianmu lagi dan lagi

lalu kusadari
pulang itu tak berarti kembali
dan pergi belum tentu menghilang 

tertuntuk kamu yang berharga
kembali tak pernah mengenal akhir
jikalau ia bertemu akhir

berarti kau tak kembali. 

senja

kamu tahu? kabar-kabar nya senja dapat menyampaikan kabar
entah itu kabar bahagia atau hanya bisa menggelisahkan saja
kabar-kabar yang disampaikan senja bisa terkabar dengan cepat
tapi tak semua kabar bisa dikabarkan-nya

dahulu sesungguhnya
senja kabarnya memilah-milah yang mana yang ia kabarkan
yang mana pula yang ia anggurkan
kabar-kabarnya senja benci kabar yang menggelisahkan
katanya kabar-kabar itu tak pantas dikabarkan

dan  senja pun bertanya-tanya
pada sang pemberi kabar gelisah
mengapa harus ada kabar-kabar yang menyedihkan
bila kabar-kabar bahagia memang ada



tapi kalau kau tak mengenal gelisah
kau tak bisa rasakan bahagia
  

Hari ini

Hari ini hujan
lumayan deras
tapi tidak terlalu berangin

aku terduduk
di pojok kanan
tempat kesukaanku
di hari ini

aku melihat
air-air yang turun
dari awan yang menangis
banyak sekali

hari ini hujan
ternyata sangat deras
lalu kusadari
hujan-ku tak pernah berhenti



terakhir

banyak yang berucap ini akhir
ini yang terakhir
ini paling akhir
dengarlah yang terakhir

tapi apakah akhir itu ada?
kecuali saat nyawa tidak bersatu dengan raga?

mereka membuat batas
mereka pula yang berteriak keras

lalu mengapa mereka masih memaksa?

mengapa tak dihilangkan saja?

mengapa harus mempertahankan emosi semata?


pada akhirnya mereka akan kalah


dan menjilat apa yang telah diucapkan.